PBA UMM News – Memasuki penghujung bulan suci Ramadhan, umat Islam diingatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kesungguhan dalam beramal. Pada Serial SUKMA (SUluh daKwah Menuju ridhANya) edisi Ramadhan, M. Ainur Roziqi, S.Pd.I., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA-UMM), menyampaikan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan fase yang sangat krusial dalam perjalanan spiritual seorang muslim.

Ia menggambarkan fase ini sebagai “zona merah kebaikan”, yakni masa penentu dari seluruh amal yang telah dilakukan sejak awal Ramadhan. Sepuluh hari terakhir bukan sekadar hitungan mundur menuju berakhirnya bulan suci, melainkan momentum penting yang menentukan kualitas penutup ibadah seorang hamba.

Dalam penjelasannya, Ainur mencontohkan teladan Rasulullah SAW yang semakin meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Pada sebuah hadis disebutkan bahwa ketika memasuki fase ini, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesungguhan Rasulullah SAW tersebut tidak terlepas dari keutamaan besar yang tersimpan dalam sepuluh malam terakhir, yakni adanya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Namun, Ainur mengingatkan agar umat Islam tidak hanya terpaku pada tanda-tanda alam yang sering dikaitkan dengan malam tersebut, seperti suasana malam yang tenang atau matahari yang tidak terlalu terik keesokan harinya.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana sepuluh malam terakhir ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk meraih ridha Allah SWT. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbanyak ibadah, memperdalam dzikir dan doa, serta melakukan i’tikaf sebagai bentuk upaya memutus keterikatan hati dari kesibukan duniawi dan memfokuskan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Selain itu, sepuluh hari terakhir Ramadhan juga menjadi momentum untuk mengukur konsistensi ibadah seorang muslim. Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang mengikuti lomba lari. Pada awal perlombaan, peserta biasanya berlari dengan penuh semangat dari garis start. Namun, ketika mendekati garis finis, tidak jarang semangat mulai melemah.

Padahal, dalam hakikat ibadah di bulan Ramadhan justru sebaliknya. Semakin mendekati akhir, seorang muslim seharusnya semakin bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Hal ini karena Allah SWT juga melihat kualitas amal seseorang dari bagaimana ia menutup ibadahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada penutupnya” (إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا). [NS & ATy]