PBA UMM News – Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperkuat semangat dakwah dan refleksi spiritual. Hal inilah yang diangkat dalam kajian SUKMA (SUluh daKwah Menuju ridhANya) edisi Ramadhan yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang Tahun 2026 M/1447 H.
Pada kesempatan tersebut, dosen PBA FAI UMM, Muhammad Fadli Ramadhan, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan materi bertajuk “Menghidupkan Cahaya Ma’ruf, Meredupkan Bayang Munkar.” Kajian ini mengajak para peserta untuk kembali memahami hakikat dakwah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari identitas seorang muslim. Pada pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kata dakwah berasal dari bahasa Arab دعا – يدعوا yang berarti seruan, panggilan, atau ajakan. Seseorang yang melakukan seruan tersebut disebut sebagai da’i, yakni orang yang mengajak dan mendorong orang lain untuk mengikuti ajaran Islam.

Ia juga mengutip ungkapan salah satu ulama Mesir, Umar al-Tilmisani, yang mengatakan, “نحن دعات قبل كلّ شيء”, yang berarti “kita adalah para da’i sebelum menjadi apa pun.” Ungkapan ini mengandung kesadaran bahwa setiap muslim, apa pun profesinya baik sebagai pejabat, petani, pedagang, polisi, dokter, guru, maupun dosen, pada hakikatnya memiliki tugas utama sebagai penyeru kepada kebaikan.
“Profesi yang kita miliki adalah peran kedua. Sebelum itu, setiap muslim memiliki tugas utama sebagai da’i, yaitu menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dakwah bukanlah tugas eksklusif para ulama atau tokoh agama saja. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Ali Imran 104, yang menyerukan agar ada sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Menurutnya, terdapat dua alasan utama mengapa dakwah harus terus digaungkan dalam kehidupan umat Islam. Pertama, dakwah merupakan jalan para nabi dan rasul, sehingga setiap muslim pada hakikatnya adalah penyambung tugas dakwah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Kedua, dakwah merupakan tugas yang sangat mulia di sisi Allah, bahkan Allah memberikan predikat “khairu al-ummah” atau sebaik-baik umat, bagi mereka yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Pada kajian tersebut, ia juga mengingatkan tentang sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri RA. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim disebutkan bahwa siapa pun yang melihat kemungkaran hendaknya mengubahnya dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, dan jika masih tidak mampu maka dengan hati, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Pesan tersebut menegaskan bahwa dakwah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Tidak selalu melalui ceramah di mimbar, tetapi juga melalui sikap, perkataan yang baik, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kajian SUKMA ini, para peserta diajak untuk memaknai Ramadhan sebagai waktu yang tepat untuk menyalakan kembali cahaya kebaikan dalam diri. Dengan menebarkan nilai-nilai ma’ruf dan perlahan meredupkan bayang kemungkaran, diharapkan setiap muslim dapat berkontribusi dalam menghadirkan kehidupan yang lebih penuh keberkahan. Kajian ini sekaligus menjadi pengingat, bahwa dakwah sejatinya adalah panggilan iman. Sebuah tugas mulia yang melekat pada setiap muslim untuk menghadirkan cahaya kebaikan di tengah kehidupan masyarakat. [NS & ATy]